Tibalah hari pertama pelatihan. Saya bersiap-siap karena pelatihan dimulai pukul 08.00 pagi, dan saya masih harus berjalan kaki sekitar 300-500 meter menuju lokasi pelatihan. Saya terkejut mendapati lalu lintas di Ho Chi Minh sangat mirip dengan di Jakarta; padat, dan jumlah motor jauh lebih banyak daripada mobil. Bahkan, beberapa motor juga terlihat di trotoar—biasanya untuk melawan arus lalu lintas—sehingga menyulitkan pejalan kaki untuk menyeberang. Untungnya, karena sudah terbiasa dengan kondisi serupa, saya tidak perlu beradaptasi lagi. Mungkin satu hal yang masih perlu saya biasakan adalah jalur kendaraan di sini yang berada di sebelah kanan, tidak seperti di Indonesia.
Saya tidak akan bercerita banyak tentang agenda pelatihannya, karena mungkin akan terlalu teknis dan saya tidak berniat membuat Anda bingung dengan hal-hal teknis keteknikan yang saya geluti. Hari pertama pelatihan ini cukup seru bagi saya, karena saya disambut dengan cukup baik oleh panitia penyelenggara dan peserta lainnya, mungkin karena saya satu-satunya peserta yang berasal dari luar Vietnam saat itu. Saat pelatihan, para peserta diberikan dua kali kesempatan coffee break, dan hal pertama yang saya cari sudah pasti adalah kopi. Sejujurnya, awalnya saya tidak berekspektasi tinggi terhadap cita rasa kopi dari hotel tempat pelatihan ini diselenggarakan. Namun, ternyata kopinya jauh lebih kuat dan pekat dibanding kopi di hotel-hotel di Indonesia, dan saya sangat menyukai kopi yang kuat! First time I tried the coffee, and sure it does tasted good! Orang-orang Vietnam di sekitar saya juga sangat ramah dan membantu saya memeriksa apakah makanan ringan yang disediakan mengandung daging (karena daging di sini kemungkinan besar tidak halal), sehingga saya akhirnya masih bisa menikmati makanan ringan tersebut.
Makan siang saya juga dibedakan dengan rekan lainnya karena sejak awal pendaftaran, saya sudah memesan untuk diberi hidangan yang halal. Mungkin pengalaman makan di restoran hotel bintang lima sedikit berkurang bagi saya, karena saya langsung diberikan a la carte. Namun, setidaknya saya masih bisa makan dengan nyaman karena tidak perlu khawatir akan kehalalan makanan yang saya santap. Setiap waktu istirahat, saya juga selalu menyempatkan diri untuk shalat, walaupun hanya di ruangan kosong dan harus berwudhu di toilet. Akan tetapi, orang-orang Vietnam tampak tidak terlalu memperdulikan saya, syukurnya panitia masih membantu saya menyediakan ruangan kosong tersebut.
Seusai pelatihan, saya kembali berjalan kaki ke hotel untuk beristirahat sejenak, menunaikan shalat Maghrib, dan mandi untuk bersiap menjelajahi Ho Chi Minh di malam hari. Saya mencoba menghubungi teman Indonesia yang baru saya temui di bandara untuk mencoba pho muslim di sekitar District 1. Saya pun menuju ke sana menggunakan Grab. Syukurlah, meskipun terdapat kendala bahasa, perjalanan saya menggunakan ojek online ini lancar, dan saya selalu mengakhirinya dengan mengucapkan terima kasih dalam bahasa Vietnam.
Gang-gang kecil di sekitar tempat makan pho tersebut mirip dengan di Indonesia, sehingga terasa familiar bagi saya. Saat bersama orang Indonesia di negara asing, saya merasa lebih percaya diri, karena bisa tertawa bersama ketika melakukan sesuatu yang memalukan. Contohnya, ketika saya berusaha diajari dan menerapkan bahasa Vietnam dengan beberapa pedagang.
Sembari menikmati pho, saya cukup kaget, karena ternyata rasa pho mirip seperti bakso, tetapi menggunakan lada yang hanya ditumbuk kasar (bahkan sebagian masih utuh). Setelah makan pho, kami juga menyempatkan berbincang di Coffee House, sebuah coffee shop franchise yang memiliki banyak cabang dan standar desain tempat yang serupa di sepanjang kota. Kami berbincang tentang banyak hal, seperti berbagi cerita tentang masalah pekerjaan dan pengalaman travelling..
Kopi di sini benar-benar kuat. Sepulang dari Coffee House, saya baru bisa tertidur pukul 01.00 dini hari!
Hari kedua, saya mencoba makan di restoran vegetarian terkenal di Ho Chi Minh yang direkomendasikan oleh salah satu peserta pelatihan. Restoran tersebut terletak di District 10. Sebuah pengalaman pertama bagi saya untuk makan di restoran vegetarian. Walaupun tak pernah terbayang sebelumnya, tapi akhirnya harus dilakukan juga karena opsi ini yang paling memungkinkan untuk saya makan masakan halal.
Setelah itu, saya mencoba berjalan kaki mencari coffee shop yang enak ke arah jalan pulang. Namun, ternyata hampir semua coffee shop di sini tutup pukul 21.00, jadi akhirnya saya pulang saja ke hotel. Dalam perjalanan pulang, saya mencoba untuk singgah ke Circle K, franchise minimarket yang paling sering ditemukan di sini. Saya pun akhirnya membeli susu untuk persediaan sarapan karena sulit mencari makanan halal di sekitar hotel. Malam itu, saya dapat tertidur dengan nyenyak, mungkin karena tidak mengonsumsi kafein.
Keesokan harinya, setelah pelatihan dan hujan reda, seperti biasa saya mencoba menjelajahi daerah sekitar lagi, mencari coffee shop untuk menikmati minuman dan makanan ringan. Saya menemukan franchise coffee shop lagi, namanya Kai Coffee. Saya mencoba membeli green tea karena takut tidak bisa tidur. Namun, ternyata malam itu saya juga tidak bisa tidur. Setelah bertanya kepada orang lokal, mereka mengatakan bahwa teh di Vietnam sama kuatnya dengan kopi. Saya tahu bahwa green tea mengandung kafein, tapi tidak menyangka akan sama kuatnya dengan kopi di sin! Saat itu, saya juga membeli croissant, dan rasanya enak. Mungkin karena Vietnam bekas jajahan Prancis, jadi makanan asal Prancis terasa enak di sini.
Pada hari Kamis, saya diundang ke Gala Dinner dari acara pelatihan yang saya hadiri. Merteka memilih restoran seafood, karena mereka tahu saya yang muslim tidak bisa sembarang memakan daging di negara non-muslim. Saat itu, saya melihat bagaimana cara orang Vietnam makan bersama. Salah satu yang perlu saya garis bawahi adalah mereka suka meminum bir (even cheering) saat dan setelah makan berlangsung.
Sepulang dari acara tersebut, saya diajak oleh salah satu peserta Vietnam—yang setelah itu menjadi teman yang cukup dekat—untuk mencoba coffee shop di daerah sekitar. Salah satu hal yang menarik saat pada perbincangan kami ialah adalah bahwa ia tidak menyangka ternyata orang Indonesia itu ramah. Saya mencoba memberi penjelasan bahwa mungkin karena orang Indonesia lainnya yang ia temui tidak terbiasa dengan budaya di Vietnam, di mana mereka biasa makan babi dan minum alkohol. Mungkin saja jika dia bertemu dengan orang Indonesia yang bukan muslim, ia akan merubah pandangannya, karena budayanya yang cukup mirip.
Di malam terakhir saya di Vietnam, teman yang saya temui di pelatihan mengajak saya untuk mencari oleh-oleh dan berjalan-jalan di District 1. Di sana, dia mencarikan dan membelikan saya kopi bubuk yang terkenal di Vietnam. Ia juga mengajak saya makan di suatu tempat makan yang menjual makanan masakan harian Vietnam. Di situ, saya baru tahu bahwa mereka juga memakan nasi dan kangkung tumis sehari-hari, meskipun dengan menggunakan sumpit. Saya juga menyempatkan diri untuk mampir di Ben Tanh, suatu daerah yang menjual banyak pernak-pernik untuk oleh-oleh. Setelah itu, kami berpisah dan saling bertukar kontak agar bisa tetap berhubungan.
Keesokan paginya, sebelum berangkat ke bandara, saya mencoba untuk minum kopi di pinggir jalan, menikmati hiruk-pikuk kota Ho Chi Minh di pagi hari. Saya juga menyempatkan diri membeli beberapa makanan ringan untuk oleh-oleh rekan saya di Indonesia.
Pukul 08.00 pagi, saya langsung memesan Grab menuju bandara. Untungnya, antrian imigrasi tidak terlalu panjang. Saya juga menyempatkan diri membeli kopi di bandara sambil menunggu keberangkatan pesawat. Saat saya sedang asik menyeruput kopi, saya terkejut karena baru tahu bahwa mereka menambahkan alkohol ke dalam kopi! Ini menjadi pelajaran bagi saya untuk selalu menanyakan apakah kopi mengandung alkohol atau tidak di kemudian hari (padahal saat di kota, saya yakin kopinya tidak menggunakan alkohol).
What a trip! See you again later, Vietnam!
Part 3 is on the wayyyyyyy!!!